Oleh Marhalim Zaini
MEMBUAT sebuah catatan, memang mengandung sejumlah resiko.
Resiko yang paling besar biasanya datang dari “hasil catatan”
itu sendiri yang kurang komprehensif, sehingga menimbulkan
ketidakpuasan pembaca. Namun, sebuah catatan bisa jadi hanya
dianggap sebagai hasil dari sebentuk “pembacaan lepas” dari
seseorang yang secara kebetulan memiliki perhatian khusus
terhadap bidang tertentu. Meski demikian, sesungguhnyasebuah
catatan (seringan apapun), acapkali dibutuhkan sebagai bahan
untuk menengok, lalu mengkomparasikan, dan kemudian melakukan
‘timbangan-timbangan’ untuk menakar kadar “bobot” yang ada
dalamobyek tersebut.
Catatan yang akan saya paparkan berikut ini, bisa jadi hanya
sebentuk catatan ringan tentang perjalanan dan
(mungkin)perkembangan sastra (di) Riau selama tahun 2005. Hal
tersulit, sebelum saya memutuskan untuk membuat catatan
iniadalah, ketika hendak duduk sebagai seorang pembaca yang
obyektif, lantas memaparkan sejumlah argumentasi,
danmelakukan penilaian-penilaian. Kesulitannya, karena posisi
saya yang juga sebagai seorang kreator(penulis/pengarang),
yang terkadang (dikuatirkan) akan “bias” pembacaannya dengan
“selera” karya-karya sendiri.
Memang di Indonesia kita punya kritikus sastra handal yang
juga sekaligus seorang penulis seperti Budi Darma atau
Sapardi Djoko Damono. Tapi, seorang otodidak macam saya tentu
saja belum berani duduk dalam kapasitas itu.Sapardi, jelas
seorang Guru Besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia,
dan Budi Darma adalah Guru Besar diFPBS Universitas Negeri
Surabaya. Mestinya memang, ada banyak akademisi (sarjana)
sastra Riau —yang lahirdari bangku-bangku perkuliahan sastra
di perguruan tinggi di Riau— yang dengan intens melakukan
pembacaan-pembacaan terhadap karya sastra penulis Riau.
Mungkin lebih aman juga kalau mau mengambil posisi macam
kritikusMaman S Mahayana, Faruk HT, Ignas Kleden, Nirwan
Dewanto, Melani Budianta, Riris K Toha Sarumpaet, dan
banyaknama lain. Maka dengan pertimbangan semacam itu, saya
hanya membuat sebuah catatan kuantitatif (dengan
sejumlahdata), dan tidak melakukan catatan kualitatif (yang
menakar tentang capaian-capaian), tapi di samping itu
izinkanlahsaya menyampaikan apresiasi-apresiasi.
Produktivitas dan Prestasi Sastra
Hary B Koriun dalam catatan kebudayaannya di media ini (Ahad,
8 Januari 2006), telah pun melakukanpencatatan sejumlah
perkembangan dan peristiwa sastra tahun 2005. Di antaranya,
di dunia penerbitan buku sastra,menurut Hary, “terlihat
mengalami progres yang baik dan mendapat tempat bukan hanya
di Riau tapi juga ditingkat nasional”. Untuk sebuah
optimisme, kita patut mendukungnya. Meski menurut hemat saya,
buku-buku sastra yang terbit tahun 2005 itu (seperti yang
telah disebut dalam catatan Hary, dan rasanya tak perlu saya
sebutkankembali), masih lahir dari para penulis Riau yang
telah cukup lama bergelut di dunia kepenulisan (seperti Hasan
Junus, Taufik Ikram Jamil, dan Fakhrunnas MA Jabbar),
sehingga memang telah sejak lama pula “mendapattempat” di
tingkat yang lebih luas. Sementara buku-buku dari penulis
lain, hanya buku Nyanyian Batanghari karya Hary B Koriun dan
novel Gadis Kunang-kunang karya Olyrinson (yang luput disebut
Hary), yang tampaknyacukup terdistribusi dengan baik.
Dari angka penerbitan buku sastra yang tak seberapa itu,
apakah kemudian bisa memperlihatkan perkembangan sastradi
daerah ini? Saya justru dapat melihat perkembangan sastra
kita dari buku-buku kumpulan karya pilihan Riau Pos
yangditerbitkan oleh Yayasan Sagang setiap tahunnya. Tradisi
penerbitan buku kumpulan karya ini secara tidak
langsungmemperlihatkan produktivitas para penulis di daerah
ini. Meski memang terlampau sempit untuk menakar
produktivitassastra hanya dari sebuah ruang budaya di Harian
Riau Pos yang terbit tiap hari minggu itu, namun paling
tidak, ada yangdapat kita catat dari hasil pergulatan sastra
selama satu tahun. Tengoklah dari tahun ke tahun, buku
kumpulan karyapilihan Riau Pos itu, selalu memberi warna
dalam konstelasi sastra (di) Riau. Meski sisi kelemahannya
adalah, tidakadanya ulasan-ulasan (atau kritik sastra yang
representatif) yang mengiringi terbitnya buku tersebut
(seperti halnyaPenerbit Kompas dengan buku Cerpen Pilihan
Kompas-nya). Ini satu hal teramat penting, yang mungkin tak
sempat jadiperhatian kita bersama.
Harus kita akui, selain buku, media sastra seperti koran dan
majalah adalah lahan subur tumbuh-kembangnya sastramodern
Indonesia. Dan sejak tahun 1993, saat Sapardi membuat catatan
sastra-nya (Republika, 24 Desember 1993),sampai kini di akhir
tahun 2005, media massa cetak yang merupakan bagian sangat
penting dari kebudayaan populerkita, masih menjadi media yang
efektif untuk mempublikasikan sekaligus mensosialisasikan
sastra ke ruang baca publikyang lebih luas. Hampir semua
penulis-penulis besar di Indonesia (bahkan di dunia), dalam
proses kepenulisannya,mengirimkan karya-karya ke media massa.
Tapi, marilah kita lihat sejumlah catatan tentang pemuatan
karya-karya penulis Riau di media massa yang sempat sayacatat
selama tahun 2005 ini. Di sejumlah media lokal semacam Riau
Pos, Riau Mandiri, Riau Tribune, Majalah Sagang, Majalah Seni
Berdaulat, danluar Riau semacam Suara Merdeka (Semarang),
Pikiran Rakyat (Bandung) dan Sumut Pos, nama-nama penulis
seperti Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, M. Badri, dan
Marhalim Zaini, menduduki “peringkat” untuk 10 sampai 15 kali
pemuatan. Sementara untuk “peringkat” di bawahnya (antara 3
sampai 5 kalipemuatan) di media lokal Riau, dapat dicatat
nama-nama penulis berikut (tanpa spesifikasi usia): Musa
Ismail, Fitrimayani, Fakhrunnas MA Jabbar, Armansyah, Edy
Ahmad RM, Dedi Yusri, Hary B Koriun, Olyrinson, SyaifulBahri,
Hang Kafrawi, Elly Zan Katan, Binoto H Balian, TM Yusuf, dan
Jefri Al Malay.
Kemudian untuk sekali-dua karya-karya penulis Riau yang
muncul di media selama tahun 2005 adalah: Nyoto, Eka
PN,Aliela, Adinda Hafizah, Fedli Aziz, Roza Muliati, Akmal
Famajra, Nandik Suparyono, Bubun Bunyamin, Ramon
Damora,Saidul Tombang, Murparsaulian, Jon Lis Effendi, Gde
Agung Lontar, Suhendri, Sahrul Tombang, Fariz Ihsan Putra,
Sei Gergaji, Dien Zhurindah, Alang Rizal, Yoesrizal Zen, Evi
Erlinda, Muhalib, Abel Tasman, Rosman, Budi Utamy, danAsrizal
Nur.Sementara untuk media nasional, penulis-penulis Riau yang
tampak masih rajin adalah Marhalim Zaini [Media Indonesia(2
kali), Majalah Sastra Horison (2 kali), Koran Tempo (2 kali),
Kompas, dan Jawa Pos], kemudian Fakhrunnas MAJabbar (Media
Indonesia dan Kompas), dan Taufik Ikram Jamil (Republika dan
Jurnal Cerpen).Dari sejumlah penulis di atas, ada muncul
seorang penulis berusia remaja dan masih duduk di bangku SMAN
Plus Riau,bernama Fariz Ihsan Putra. Cerpen-cerpennya juga
sempat terhimpun dalam buku Seikat Dongeng Tentang Wanita
danSatu Abad Cerpen Riau. Hemat saya, potensi dan bakat besar
yang tampak dalam karya-karyanya, cukup memberiharapan baru
dalam regenerasi sastra Riau. Selain itu, hal yang cukup
menarik adalah munculnya para penerjemahsastra. Semisal
Murparsaulian, Roza Muliati, Gde Agung Lontar, Zuarman Ahmad,
Evi Erlinda, dan Armansyah. Diantara nama-nama tersebut,
Armansyah cukup produktif melakukan upaya penerjemahan karya
sastra Timur Tengah.
Paling tidak, kita bisa berkata, inilah para penerjemah
penerus Hasan Junus.Selama tahun 2005 pula, dapat dicatat
sejumlah prestasi yang telah diraih oleh sejumlah penulis
Riau. Seperti Olyrinsonyang meraih juara II Sayembara Menulis
Novel Forum Lingkar Pena, Juara III Mengarang Cerpen Krakatau
AwardDewan Kesenian Lampung, lalu juara harapan Menulis
Cerpen Dewan Kesenian Riau, juara harapan Menulis
CerbungFemina, dan nominator cerpen CWI 2005. Selain Oly, ada
Abel Tasman yang meraih juara harapan I dalam LombaMengulas
Karya Sastra yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan
Nasional, dan penerima Anugerah SeniTradisi dari Dinas
Budsenipar Provinsi Riau. Kemudian Hary B Koriun yang meraih
Anugerah Ganti untuknovelnya Nyanyi Sunyi dari Indragiri,
lalu novel remajanya berjudul Jejak Hujan masuk 10 besar
Sayembara MenulisNovel Remaja yang diselenggarakan oleh
Grasindo dan Radio Nedherland Suara Indonesia (Ranesi).
Selain itu, Marhalim Zaini raih Pemenang Penghargaan I dalam
Sayembara Novel Dar Mizan 2005, Juara II untuk Puisi dan
Cerpen(tingkat Nasional) dalam Laman Cipta Sastra DKR, dan
naskah skenarionya berjudul Dongeng Negeri Siti masuk dalam10
Naskah Pilihan Sayembara Menulis Skenario Film Cerita yang
diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan danPariwisata dan
Dirjen Perfilman Nasional, dan terakhir Marhalim juga
diundang dalam Bintan Art Festival di TanjungPinang, dan
sebuah iven sastra Internasional yang ditaja oleh Komunitas
Utan Kayu bertajuk International LiteraryBiennale 2005 yang
digelar di Bandung, Lampung, dan Jakarta.Selain sejumlah
prestasi di atas, boleh jadi juga masih ada sejumlah penulis
Riau yang meraih penghargaan sastra,namun tak tertangkap
dalam “radar” pembacaan saya. Dan dari paparan produktivitas
yang diperkuatdengan sejumlah prestasi, barangkali tak
terlampau sulit untuk kemudian membuat semacam pemetaan
sastra di Riau.
Wacana dan Peristiwa SastraSeorang pengamat sastra lulusan
sebuah universitas di Leiden, Sudarmoko, pernah menulis di
media ini berjudul“Komunitas dan Perkembangan Sastra Kita.”
Ia mencermati fenomena munculnya beragam komunitassastra di
daerah-daerah, yang kemudian cukup memberi kontribusi dalam
khazanah sastra, baik dalam pemikiranmaupun terlahirnya para
penulis-penulis baru. Namun, saya kira, tidak untuk Riau.
Sepanjang tahun 2005, komunitassastra boleh dikata tidak
muncul, kecuali Senapelan Writer Assosation (sehabis
menerbitkan buku kumpulan sajakBelantara Kata, kini tampak
diam) dan Majelis Jumat (sebuah komunitas lepas dan sebuah
forum diskusi sastrabulanan). Majelis Jumat yang digerakkan
Marhalim Zaini dan dinaungi Yayasan Pusaka Riau, mungkin
bukanlah sebuah wadahideal untuk melahirkan wacana-wacana
besar dan penulis-penulis baru.
Namun, sebagai sebuah gerakan budaya, sayakira, ia patut
dicatat.Tema-tema yang diangkat dalam Majelis Jumat selama
setahun (terhitung September 2004 s/d September 2005)
adalahApa Kabar Sastra Riau (pembicara Sy Bahri Judin),
Proses Kreatif Pengkarya (pembicara Goenawan Mohamad
danChaidir), Bedah Buku Langgam Negeri Puisi karya Marhalim
Zaini (Pembicara Maman S Mahayana), Strategi SastraRiau
(pembicara Taufik Ikram Jamil), Satu Abad Sastra Riau
(pembicara Fakhrunnas MA Jabbar dan Sutrianto), Sastradan
Media Massa (pembicara Hary B Kori’un dan Fitrimayani), Bedah
Novel Jalan Menurun karya Olyrinson(pembicara Abel Tasman),
Fenomena Sastra Perempuan (Pembicara Essy Syam), dan Membaca
Sastra Remaja (pembicara Hang Kafrawi).
Setelah tema terakhir ini, Majelis Jumat kemudian membentuk
Rumah Sastra Siswa (RSS),yang sampai kini tetap aktif
mengadakan diskusi karya dengan sejumlah siswa di
Pekanbaru.Di antara tema-tema di atas, yang kemudian mencuat
dan sempat menjadi polemik di Riau Pos adalah tema“Sastra dan
Media Massa” yang dilemparkan oleh Hary B Kori’un, dan
kemudian ditanggapi olehMarhalim Zaini, Pandapotan MT
Siallagan, dan M Badri. Sebagian polemik termaktub dalam buku
Tafsir Luka (YayasanSagang, 2005). Wacana lain yang cukup
mencuat adalah “Satu Abad Cerpen Riau” dan “Fenomena Sastra
Perempuan” Untuk tema terakhir, Adinda Hafizah merespon
dengan tulisannya berjudul PerempuanPengarang di Riau Hanya
Sebagai Penonton?, yang kemudian ditanggapi oleh Marhalim
Zaini dengan Bukan Memperbincangkan Kelamin Sastra.
Dan terakhir polemik ringan juga terjadi antara Marhalim
Zaini dan Sudarmoko tentang wacana
“Pembaca-yang-tak-bersih.”Di akhir tahun 2005, sebuah
peristiwa sastra nasional yang mengusung wacana lokalitas
juga digelar di kota Bertuah ini.Sebagaimana yang juga telah
dipaparkan oleh Hary dalam catatannya, Kongres Cerpen
Indonesia (KCI) yang dihadirioleh para pembicara dan peserta
dari berbagai daerah di Indonesia ini, rupanya cukup memberi
kontribusi yangsignifikan bagi menengok arah perkembangan
sastra (terkhusus cerpen) di Riau.
Wacana lokalitas dalam cerpen-cerpenpenulis Riau-lah
sesungguhnya yang memberi laluan bagi sebuah wacana besar
yang selama ini didengung-dengungkan, yakni Mazhab Riau.
Hemat saya, kehadiran para kritikus sastra macam Budi Darma,
Melani Budianta,Maman S Mahayana, Nirwan Dewanto, Abdul Hadi
WM, Agus R Sarjono, Ahmadun Y Herfanda dan juga para
penulishandal macam Ahmad Tohari, Joni Ariadinata, Gus TF
Sakai, dan lain sebagainya, cukup menjadi sebuah
legitimasikreatif, bahwa di negeri ‘gerah’ ini juga masih
terhimpun para penulis-penulis yang dengan
gigihmemeperjuangkan “ideologi sastra”-nya yang kelak dapat
mengisi ruang-ruang kebudayaan Nusantara.
Ada baiknya di tahun ini, wacana-wacana sastra juga
berkembang dalam komunitas-komunitas sastra di Riau.Tumbuhnya
wacana-wacana ini sesungguhnya dapat memperkuat eksistensi
sastra di wilayah publik. Sehingga sastratidak hanya berdiri
di menara gading, akan tetapi melakukan upaya pembangunan
jaringan sastra di tingkat yang palingbawah.
Tertangkap-basahnya para plagiat di tahun 2005, juga
mengindikasikan counter masyarakat pembaca kita sudahmulai
meningkat. Artinya, diam-diam sudah “ada yang jalan” dalam
lorong-lorong sunyi kebudayaan kita,meski sangat-sangat
perlahan.Ulasan SastraTak dapat dipungkiri, bahwa
sesungguhnya kita sedang sangat merindukan hadirnya para
“pengulassastra&” (baca: kritikus sastra) dalam konstelasi
sastra di Riau. Betapapun pahitnya sebuah kritik, hasil dari
sebuahpembacaan kritis justru membuat karya-karya yang
dihasilkan tak kehilangan “pegangan”.
Karya-karyatersebut kemudian dapat hadir dengan wajahnya yang
cemerlang dan penuh “ketakterdugaan” Kita tentutak menafikan
bahwa memang ada sejumlah pengulas sastra kita yang mumpuni,
namun barangkali untuk tahun 2005,kita belum membaca hasil
ulasan mereka.Tapi baiklah, sejumlah ulasan sebenarnya dapat
kita temui justru lebih banyak dari para pengulas dari luar
Riau. MamanS Mahayana misalnya, terakhir mengulas karya puisi
Asrizal Nur dalam kata pengantarnya untuk buku antologi
puisiberjudul Perlawanan Orang Kotak Debu (Riau Pos, 23
Oktober 2005).
Sebelumnya, Maman juga mengulas puisiMarhalim Zaini yang
tergabung dalam antologi Langgam Negeri Puisi, yang kemudian
dikirim dalam berbagai versi ketiga media berbeda (Riau Pos,
Republika, dan Majalah Horison). Seorang pengulas sastra dari
Lampung Oyos SarosoHN juga melakukan pembacaan terhadap puisi
Marhalim Zaini dalam tulisannya berjudul Puisi Indonesia dan
Teosentris-Antroposentris Terbelah (Media Indonesia, 12 Juni
2005). Lalu dapat juga kita baca ulasan dari Wannofri
Samryterhadap novel Hary B Koriun berjudul Nyanyian
Batanghari (Riau Pos, 9 Oktober 2005). Selain itu, dari
penulis Riau kitatemukan sejumlah ulasan sastra, seperti
Fakhrunnas MA Jabbar yang mengulas karya-karya Idrus Tintin
(Riau Pos, 7Agustus 2005), atau Rosman H yang mengulas cerpen
Hang Kafrawi (Majalah Seni Berdaulat, XIII, 2005), atau
Griven HPutra yang mendedahkan buku Republik Jangkrik karya
Abel Tasman (Majalah Seni Berdaulat, XIV, 2005).
***
SAYA kira, di tahun-tahun mendatang, hal yang perlu dilakukan
adalah mengisi kekosongan-kekosongan yang masihdemikian
tampak dalam peta sastra kita. Produktivitas barangkali
bukanlah menjadi soal yang krusial jika targetnyahanya semata
absensi “kehadiran” dan tidak melakukan upaya penggalian
esetetika. Namun, produktivitaskadangkala bisa menjadi
tonggak awal bagi proses berikutnya, terutama untuk menengok
‘jarak tempuh’perjalanan kreatif seorang penulis. Di samping
itu, ada baiknya mengatur sejumlah strategi, dengan
membangunjaringan publikasi terluas, membangun
komunitas-komunitas dan menelurkan wacana-wacana sastra,
serta denganperlahan-lahan membangun tradisi baru sastra Riau
yang lebih kondusif, kreatif-inovatif. Tabik, sastra Riau!***
Marhalim Zaini, pembaca sastra, tinggal di Pekanbaru.
Riau Pos, Minggu, 15 Januari 2006